1. Pendahuluan

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi baru lahir yang mengandung antibodi, enzim, hormon, dan zat gizi lengkap yang tidak dapat digantikan oleh susu formula. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi. Namun, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih berada di bawah target nasional, salah satunya disebabkan oleh keterlambatan pengeluaran ASI pada hari-hari pertama pasca persalinan.

Keterlambatan pengeluaran ASI erat kaitannya dengan refleks oksitosin yang belum optimal. Oksitosin adalah hormon yang berperan dalam kontraksi sel-sel mioepitel di sekitar alveolus payudara sehingga ASI dapat mengalir menuju duktus laktiferus. Stres, kecemasan, dan nyeri pasca melahirkan dapat menghambat pelepasan oksitosin sehingga proses let-down reflex menjadi terganggu. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat dilakukan bidan untuk merangsang refleks oksitosin adalah pijat oksitosin, yaitu pemijatan pada sepanjang tulang belakang mulai dari nervus cervicalis hingga tulang costae kelima dan keenam.

Pijat oksitosin dipercaya dapat memberikan rasa nyaman, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, serta merangsang pelepasan hormon oksitosin dan prolaktin. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang bervariasi mengenai efektivitas teknik ini, sehingga penelitian lanjutan pada populasi ibu post partum di wilayah kerja Puskesmas binaan AKBID WKM dipandang perlu untuk memperkuat bukti ilmiah yang dapat diterapkan dalam praktik asuhan kebidanan sehari-hari.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan rancangan pretest-posttest control group design. Populasi penelitian adalah seluruh ibu post partum normal di dua Puskesmas wilayah binaan pada periode Januari–Maret 2024. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sejumlah 32 responden, terdiri atas 16 responden kelompok intervensi dan 16 responden kelompok kontrol, dengan kriteria inklusi ibu post partum hari pertama, persalinan normal tanpa komplikasi, dan bersedia menjadi responden.

Kelompok intervensi menerima pijat oksitosin selama 15–20 menit, dua kali sehari (pagi dan sore), selama tiga hari berturut-turut yang dilakukan oleh peneliti terlatih. Kelompok kontrol menerima asuhan nifas standar sesuai protokol Puskesmas. Variabel yang diukur meliputi waktu pengeluaran ASI pertama kali (dalam jam) dan volume ASI yang diperah pada hari ketiga (dalam mililiter), diukur menggunakan gelas ukur steril. Analisis data menggunakan uji t-independen dengan taraf signifikansi 0,05, didahului uji normalitas Shapiro-Wilk.

3. Hasil Penelitian

Karakteristik responden pada kedua kelompok relatif homogen berdasarkan usia, paritas, dan jenis persalinan sehingga layak untuk dibandingkan. Tabel berikut merangkum perbedaan rerata waktu pengeluaran ASI dan volume ASI antara kedua kelompok.

VariabelKelompok Intervensi (n=16)Kelompok Kontrol (n=16)Nilai p
Waktu pengeluaran ASI pertama (jam)10,4 ± 2,116,8 ± 3,40,001
Volume ASI hari ke-3 (ml)68,5 ± 12,342,7 ± 10,60,000
Skor kenyamanan payudara7,9 / 105,6 / 100,003

Hasil uji t-independen menunjukkan nilai p<0,05 pada seluruh variabel yang diukur, yang berarti terdapat perbedaan bermakna secara statistik antara kelompok yang mendapatkan pijat oksitosin dengan kelompok kontrol. Kelompok intervensi menunjukkan waktu pengeluaran ASI yang lebih cepat rata-rata 6,4 jam serta volume ASI yang lebih banyak pada hari ketiga.

4. Pembahasan

Temuan penelitian ini sejalan dengan teori bahwa stimulasi pada area punggung dapat merangsang saraf parasimpatis yang berujung pada pelepasan hormon oksitosin dari hipofisis posterior. Pijat oksitosin memberikan efek relaksasi yang menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol, sehingga jalur hormonal yang menghambat let-down reflex dapat diminimalkan. Selain efek hormonal, sentuhan fisik yang diberikan bidan juga memberikan efek psikologis berupa rasa diperhatikan dan nyaman bagi ibu post partum yang sering mengalami kecemasan pada hari-hari pertama menyusui.

“Pijat oksitosin bukan sekadar teknik fisik, melainkan bentuk asuhan sayang ibu yang menggabungkan sentuhan terapeutik dengan dukungan emosional pada masa transisi menjadi seorang ibu.”

Perbedaan volume ASI yang signifikan pada hari ketiga juga menunjukkan bahwa efek pijat oksitosin bersifat kumulatif, di mana stimulasi berulang secara konsisten memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan stimulasi tunggal. Hal ini memperkuat rekomendasi agar pijat oksitosin dilakukan secara terjadwal, bukan hanya sebagai tindakan insidental ketika ibu mengeluhkan ASI belum keluar. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya standarisasi pijat oksitosin sebagai bagian dari SOP asuhan nifas normal di fasilitas kesehatan tingkat pertama, disertai pelatihan berkala bagi bidan dan kader kesehatan agar teknik pemijatan dilakukan secara benar dan konsisten.

Keterbatasan penelitian ini antara lain jumlah sampel yang relatif kecil dan durasi pengamatan yang singkat, sehingga penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar dan periode observasi hingga enam minggu pasca persalinan diperlukan untuk melihat dampak jangka menengah terhadap keberhasilan ASI eksklusif.

6. Implikasi bagi Praktik Kebidanan

Bagi bidan pelaksana di ruang nifas, hasil penelitian ini menegaskan bahwa pijat oksitosin sebaiknya tidak diposisikan sebagai tindakan darurat ketika ibu mengeluh ASI belum keluar, melainkan sebagai bagian dari paket asuhan nifas rutin yang terjadwal sejak jam-jam pertama setelah persalinan. Bidan perlu dibekali keterampilan teknik pemijatan yang benar melalui pelatihan berjenjang, mengingat teknik yang kurang tepat berpotensi menurunkan efektivitas maupun menimbulkan ketidaknyamanan bagi ibu.

Selain aspek keterampilan teknis, dokumentasi keberhasilan pijat oksitosin dalam rekam asuhan kebidanan juga penting dilakukan secara konsisten, sehingga dapat menjadi basis data untuk evaluasi program manajemen laktasi di tingkat fasilitas kesehatan maupun untuk mendukung penelitian lanjutan berskala lebih besar di masa mendatang.

5. Kesimpulan

Pijat oksitosin terbukti efektif mempercepat waktu pengeluaran ASI dan meningkatkan volume ASI pada ibu post partum hari pertama hingga ketiga. Teknik ini aman, mudah diaplikasikan, dan tidak memerlukan biaya tambahan sehingga sangat potensial diintegrasikan ke dalam asuhan kebidanan nifas standar di layanan kesehatan primer maupun praktik mandiri bidan.

Daftar Pustaka

  1. Anggraini, D., & Sari, Y. (2023). Manajemen Laktasi pada Ibu Post Partum. Yogyakarta: Nuha Medika.
  2. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Pelayanan Antenatal, Persalinan, Nifas, dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. Kusumaningrum, E. (2023). Pengaruh pijat oksitosin terhadap produksi ASI. Jurnal Kebidanan Indonesia, 14(2), 88–96.
  4. Rahmawati, S. (2022). Efektivitas stimulasi payudara pada masa nifas. Jurnal Ilmu Kesehatan, 9(1), 55–63.
  5. Ulfah, M. (2021). Faktor yang memengaruhi kelancaran ASI. Jurnal Bidan Cerdas, 3(2), 101–109.
  6. WHO. (2021). Infant and Young Child Feeding: Model Chapter. Geneva: World Health Organization.
  7. Wulandari, A. P. (2023). Dukungan tenaga kesehatan terhadap keberhasilan menyusui dini. Jurnal Kesehatan Ibu dan Anak, 8(1), 21–29.
Cara Mengutip Siti Rahmawati, Ns. Endah Kusumaningrum, S.Keb., M.Kes (2024). Efektivitas Pijat Oksitosin terhadap Kelancaran Produksi ASI pada Ibu Post Partum. eJournal AKBID WKM, 5(1), 1-11.