1. Pendahuluan

Kesehatan reproduksi remaja merupakan salah satu indikator penting kesehatan masyarakat karena berkaitan erat dengan risiko pernikahan dini, kehamilan tidak diinginkan, dan penularan penyakit menular seksual. Remaja putri berada pada fase transisi biologis dan psikologis yang membutuhkan pemahaman memadai mengenai perubahan tubuh, siklus menstruasi, dan cara menjaga kesehatan organ reproduksi.

Di wilayah pedesaan, akses terhadap informasi kesehatan reproduksi yang akurat masih terbatas, sementara paparan informasi dari media sosial yang tidak selalu tepercaya justru meningkat pesat. Kesenjangan ini berpotensi menimbulkan miskonsepsi yang dapat berdampak pada perilaku berisiko di kalangan remaja putri.

Penelitian ini bertujuan menggambarkan tingkat pengetahuan dan sumber informasi kesehatan reproduksi pada remaja putri di wilayah pedesaan sebagai dasar perumusan program edukasi kesehatan reproduksi berbasis sekolah yang lebih tepat sasaran.

2. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 120 siswi SMA kelas X dan XI di wilayah pedesaan binaan, dipilih menggunakan teknik stratified random sampling.

Instrumen penelitian berupa kuesioner 20 item yang mencakup tiga domain: anatomi dan fisiologi reproduksi, siklus menstruasi, dan pencegahan penyakit menular seksual, serta pertanyaan tambahan mengenai sumber informasi utama. Skor pengetahuan dikategorikan menjadi baik (≥76%), cukup (56–75%), dan kurang (<56%). Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi.

3. Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan variasi tingkat pengetahuan responden sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Kategori PengetahuanJumlahPersentase
Baik1815%
Cukup7058%
Kurang3227%

Terkait sumber informasi, sebagian besar responden (62%) mengaku memperoleh informasi kesehatan reproduksi dari media sosial, 24% dari teman sebaya, dan hanya 14% dari tenaga kesehatan atau guru di sekolah. Domain dengan skor pengetahuan terendah adalah pencegahan penyakit menular seksual, sedangkan domain siklus menstruasi memiliki skor tertinggi.

4. Pembahasan

Dominasi media sosial sebagai sumber informasi kesehatan reproduksi menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena konten yang beredar tidak selalu terverifikasi secara ilmiah dan berpotensi menyesatkan. Rendahnya keterlibatan tenaga kesehatan sebagai sumber informasi menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan layanan kesehatan dan pemanfaatannya oleh remaja, yang dapat disebabkan oleh rasa malu, stigma, atau keterbatasan program edukasi di sekolah.

“Ketika tenaga kesehatan tidak hadir sebagai sumber informasi utama bagi remaja, ruang tersebut akan diisi oleh sumber lain yang belum tentu akurat.”

Rendahnya pengetahuan pada domain pencegahan penyakit menular seksual mengindikasikan perlunya kurikulum edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek biologis semata tetapi juga aspek pencegahan dan perilaku berisiko. Kolaborasi antara sekolah, Puskesmas, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan program edukasi kesehatan reproduksi remaja.

Program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) yang telah ada di banyak Puskesmas berpotensi menjadi wadah strategis apabila dipromosikan secara lebih aktif dan menjangkau sekolah-sekolah di wilayah pedesaan secara berkala, sehingga remaja putri memiliki akses langsung terhadap tenaga kesehatan sebagai sumber informasi yang tepercaya.

6. Implikasi bagi Praktik Kebidanan

Bidan yang bertugas di wilayah pedesaan dapat berperan aktif dalam program Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja dengan menjalin kerja sama langsung bersama pihak sekolah, misalnya melalui kunjungan edukasi rutin atau pembentukan kader kesehatan remaja sebaya yang telah dilatih oleh tenaga kesehatan.

Pemanfaatan media edukasi yang familiar bagi remaja, seperti konten media sosial yang dikurasi oleh tenaga kesehatan, dapat menjadi jembatan antara kebutuhan informasi remaja dengan sumber informasi yang akurat dan tepercaya, sekaligus mengurangi ketergantungan remaja terhadap sumber informasi yang tidak terverifikasi.

5. Kesimpulan

Mayoritas remaja putri di wilayah pedesaan memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi pada kategori cukup, dengan media sosial sebagai sumber informasi dominan. Penguatan edukasi berbasis sekolah yang melibatkan tenaga kesehatan secara langsung sangat diperlukan. Temuan ini juga diharapkan dapat memperkaya bahan ajar praktik klinik kebidanan di lingkungan AKBID WKM maupun institusi pendidikan kebidanan sejenis, sekaligus menjadi rujukan bagi penyusunan kebijakan layanan kesehatan primer yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu dan keluarga. Dengan demikian, kolaborasi berkelanjutan antara institusi pendidikan, fasilitas layanan kesehatan primer, dan pemangku kebijakan setempat menjadi kunci penting dalam menerjemahkan hasil penelitian ini menjadi perbaikan nyata pada kualitas asuhan kebidanan yang diterima masyarakat. Hal ini penting untuk ditindaklanjuti secara berkelanjutan.

Keterbatasan Penelitian. Penelitian ini bersifat deskriptif sehingga tidak dapat menjelaskan hubungan sebab-akibat antara sumber informasi dengan tingkat pengetahuan remaja putri. Pengumpulan data melalui kuesioner mandiri juga berpotensi menimbulkan bias jawaban sosial yang diinginkan (social desirability bias), khususnya pada pertanyaan yang bersifat sensitif seputar kesehatan reproduksi. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan pendekatan mixed method yang menggabungkan survei kuantitatif dengan wawancara mendalam untuk menggali lebih dalam persepsi dan hambatan remaja putri dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi di wilayah pedesaan, serta memperluas cakupan sampel pada beberapa sekolah dengan karakteristik geografis berbeda.

Daftar Pustaka

  1. Wulandari, A. P. (2023). Gambaran pengetahuan kesehatan reproduksi remaja. Jurnal Kesehatan Remaja, 4(1), 22–30.
  2. Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja. Jakarta: Kemenkes RI.
  3. BKKBN. (2021). Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia. Jakarta: BKKBN.
  4. Rahmawati, S. (2022). Peran media sosial terhadap literasi kesehatan reproduksi remaja. Jurnal Promosi Kesehatan, 7(1), 18–27.
  5. WHO. (2020). Adolescent Health and Development. Geneva: World Health Organization.
Cara Mengutip Anisa Putri Wulandari, S.Keb., Bd (2024). Gambaran Pengetahuan Remaja Putri tentang Kesehatan Reproduksi di Wilayah Pedesaan. eJournal AKBID WKM, 5(2), 48-59.