1. Pendahuluan
Preeklampsia adalah kondisi hipertensi yang timbul setelah usia kehamilan 20 minggu disertai proteinuria atau tanda kerusakan organ lain, dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu tertinggi di dunia termasuk Indonesia. Kondisi ini juga berkontribusi terhadap kelahiran prematur dan berat bayi lahir rendah akibat gangguan perfusi plasenta.
Deteksi dini faktor risiko preeklampsia menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan komplikasi yang lebih berat. Berbagai faktor risiko telah diidentifikasi dalam literatur, mulai dari faktor demografis seperti usia dan paritas, faktor antropometri seperti indeks massa tubuh, hingga faktor genetik seperti riwayat hipertensi keluarga.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko yang paling berkontribusi terhadap kejadian preeklampsia pada populasi ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas binaan, sebagai dasar penyusunan protokol skrining risiko yang lebih efektif.
2. Metode Penelitian
Penelitian menggunakan desain studi kasus kontrol dengan perbandingan 1:1 pada 60 ibu hamil, terdiri dari 30 kasus preeklampsia yang terdiagnosis berdasarkan kriteria klinis dan 30 kontrol ibu hamil normotensi yang dipilih menggunakan teknik matching usia kehamilan.
Data dikumpulkan melalui telaah rekam medis dan wawancara terstruktur mengenai usia, indeks massa tubuh sebelum hamil, riwayat hipertensi keluarga, dan paritas. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square untuk analisis bivariat, dilanjutkan regresi logistik berganda untuk menentukan faktor risiko independen dengan tingkat kepercayaan 95%.
3. Hasil Penelitian
Hasil analisis multivariat menunjukkan empat variabel sebagai faktor risiko independen preeklampsia, sebagaimana disajikan pada tabel berikut.
| Faktor Risiko | Adjusted OR | 95% CI | Nilai p |
|---|---|---|---|
| Usia berisiko (<20/>35 tahun) | 3,4 | 1,3–8,9 | 0,012 |
| IMT pra-hamil ≥25 | 4,0 | 1,6–10,1 | 0,003 |
| Riwayat hipertensi keluarga | 3,6 | 1,4–9,3 | 0,007 |
| Paritas pertama (primigravida) | 2,8 | 1,1–7,2 | 0,029 |
Indeks massa tubuh pra-hamil yang tinggi menunjukkan kekuatan hubungan paling besar terhadap kejadian preeklampsia, diikuti oleh riwayat hipertensi keluarga, usia berisiko, dan status primigravida.
4. Pembahasan
Indeks massa tubuh berlebih sebelum kehamilan berkaitan dengan kondisi resistensi insulin dan inflamasi sistemik tingkat rendah yang dapat mengganggu proses invasi trofoblas ke dalam arteri spiralis, sehingga meningkatkan risiko gangguan perfusi plasenta yang mendasari patofisiologi preeklampsia. Temuan ini menegaskan pentingnya optimalisasi status gizi pra-konsepsi sebagai bagian dari upaya pencegahan preeklampsia.
“Preeklampsia sering kali telah menunjukkan tanda risiko jauh sebelum gejala klinis muncul, sehingga skrining pada trimester pertama menjadi jendela emas untuk pencegahan.”
Riwayat hipertensi dalam keluarga mengindikasikan adanya komponen genetik dalam kerentanan terhadap preeklampsia, yang berinteraksi dengan faktor lingkungan dan gaya hidup. Sementara itu, status primigravida berkaitan dengan teori imunologis di mana paparan pertama terhadap antigen paternal pada kehamilan pertama meningkatkan risiko respons imun maladaptif yang berkontribusi terhadap preeklampsia.
Implikasi klinis dari temuan ini adalah perlunya skrining faktor risiko preeklampsia secara komprehensif pada kunjungan ANC pertama, termasuk pengukuran IMT, penggalian riwayat keluarga, dan identifikasi kelompok usia berisiko, sehingga ibu hamil dengan risiko tinggi dapat memperoleh pemantauan tekanan darah dan proteinuria yang lebih intensif sepanjang kehamilan.
6. Implikasi bagi Praktik Kebidanan
Bidan di layanan antenatal perlu menjadikan pengukuran indeks massa tubuh dan penggalian riwayat keluarga sebagai bagian rutin skrining awal kehamilan, bukan hanya pada kunjungan pertama tetapi dievaluasi ulang secara berkala. Ibu hamil dengan faktor risiko yang teridentifikasi sejak awal dapat diarahkan pada jadwal pemantauan tekanan darah yang lebih ketat.
Kolaborasi lintas profesi antara bidan dan dokter menjadi penting ketika ditemukan tanda-tanda awal preeklampsia, agar penanganan dan rujukan dapat dilakukan secara tepat waktu sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat bagi ibu maupun janin.
5. Kesimpulan
Usia berisiko, indeks massa tubuh pra-hamil tinggi, riwayat hipertensi keluarga, dan primigravida merupakan faktor risiko independen kejadian preeklampsia. Skrining risiko sejak kunjungan ANC pertama perlu diperkuat untuk deteksi dini. Temuan ini juga diharapkan dapat memperkaya bahan ajar praktik klinik kebidanan di lingkungan AKBID WKM maupun institusi pendidikan kebidanan sejenis, sekaligus menjadi rujukan bagi penyusunan kebijakan layanan kesehatan primer yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu dan keluarga. Dengan demikian, kolaborasi berkelanjutan antara institusi pendidikan, fasilitas layanan kesehatan primer, dan pemangku kebijakan setempat menjadi kunci penting dalam menerjemahkan hasil penelitian ini menjadi perbaikan nyata pada kualitas asuhan kebidanan yang diterima masyarakat.
Keterbatasan Penelitian. Jumlah sampel yang relatif kecil pada penelitian ini membatasi generalisasi temuan pada populasi yang lebih luas, dan beberapa faktor risiko lain seperti riwayat diabetes gestasional maupun kehamilan kembar belum turut dianalisis. Data yang bersumber dari rekam medis juga berpotensi mengalami ketidaklengkapan pencatatan pada beberapa variabel. Penelitian lanjutan dengan multisenter dan jumlah sampel lebih besar diperlukan untuk memperkuat validitas eksternal temuan, serta mempertimbangkan analisis biomarker tambahan seperti rasio sFlt-1/PlGF yang saat ini mulai digunakan sebagai prediktor dini preeklampsia di beberapa fasilitas kesehatan rujukan.
Daftar Pustaka
- Ulfah, M., Rahmawati, S. (2024). Faktor risiko preeklampsia pada layanan primer. Jurnal Kebidanan Nusantara, 8(1), 10–19.
- POGI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Preeklampsia. Jakarta: Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
- WHO. (2021). WHO Recommendations for Prevention and Treatment of Pre-eclampsia and Eclampsia. Geneva: WHO Press.
- Anggraini, D. (2023). Indeks massa tubuh dan risiko hipertensi kehamilan. Jurnal Ilmu Kebidanan, 7(2), 60–68.
- Duckitt, K., Harrington, D. (2019). Risk factors for pre-eclampsia. BMJ, 330(7491), 565.