1. Pendahuluan
Berat bayi lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu kontributor utama angka kematian neonatal dan berisiko terhadap gangguan tumbuh kembang jangka panjang. Salah satu faktor determinan utama berat bayi lahir adalah status gizi ibu selama kehamilan, yang dapat dinilai secara sederhana melalui pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) sebagai indikator status gizi kronis.
Ibu hamil dengan LiLA kurang dari 23,5 cm dikategorikan mengalami Kurang Energi Kronis (KEK), yang mencerminkan cadangan energi tubuh yang tidak memadai untuk mendukung kebutuhan gizi kehamilan secara optimal. Kondisi KEK yang tidak tertangani berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan janin intrauterin yang berujung pada berat bayi lahir rendah.
Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara status gizi ibu hamil berdasarkan LiLA dengan berat bayi lahir di wilayah kerja Puskesmas binaan, sebagai dasar penguatan program intervensi gizi pada ibu hamil berisiko.
2. Metode Penelitian
Penelitian menggunakan desain korelasional dengan pendekatan retrospektif pada 85 pasang data ibu-bayi yang bersalin di Puskesmas wilayah binaan periode 2023–2024, diperoleh dari data rekam medis dan buku KIA.
Data LiLA diambil dari pengukuran pada kunjungan ANC trimester I, sedangkan berat bayi lahir diukur segera setelah kelahiran menggunakan timbangan bayi terstandar. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson untuk melihat kekuatan hubungan antar variabel numerik, dilengkapi tabulasi silang antara kategori status gizi dan kategori berat bayi lahir.
3. Hasil Penelitian
Hasil tabulasi silang antara status gizi ibu hamil dan kategori berat bayi lahir disajikan pada tabel berikut.
| Status Gizi Ibu | BBLR (<2500g) | Normal (≥2500g) | Total |
|---|---|---|---|
| KEK (LiLA<23,5cm) | 14 (48%) | 15 (52%) | 29 |
| Normal (LiLA≥23,5cm) | 8 (14%) | 48 (86%) | 56 |
Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan koefisien korelasi r=0,52 dengan nilai p=0,000, yang berarti terdapat hubungan positif yang bermakna dan berkekuatan sedang antara LiLA ibu hamil dengan berat bayi lahir. Semakin tinggi nilai LiLA ibu, semakin tinggi pula kecenderungan berat bayi lahir normal.
4. Pembahasan
Status gizi ibu yang buruk selama kehamilan berdampak pada terbatasnya suplai nutrisi ke janin melalui plasenta, sehingga menghambat pertumbuhan optimal janin dalam kandungan. Ibu dengan KEK cenderung memiliki cadangan energi dan protein yang tidak mencukupi untuk mendukung pertumbuhan jaringan janin, khususnya pada trimester III yang merupakan periode pertumbuhan janin paling pesat.
“Lingkar lengan atas yang diukur pada awal kehamilan sesungguhnya adalah cermin awal dari berat badan bayi yang akan lahir sembilan bulan kemudian.”
Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini status gizi ibu hamil melalui pengukuran LiLA pada kunjungan ANC pertama, sehingga ibu dengan risiko KEK dapat segera memperoleh intervensi berupa pemberian makanan tambahan dan konseling gizi yang intensif sebelum memasuki trimester III kehamilan.
Program pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK yang telah berjalan di Puskesmas perlu terus dievaluasi efektivitasnya, disertai monitoring berkala terhadap perubahan LiLA sepanjang kehamilan sebagai indikator keberhasilan intervensi gizi yang diberikan.
6. Implikasi bagi Praktik Kebidanan
Pengukuran LiLA yang sederhana dan murah menjadikannya alat skrining yang sangat sesuai diterapkan secara luas di layanan primer, termasuk oleh kader posyandu yang telah dilatih. Bidan perlu memastikan hasil pengukuran LiLA didokumentasikan dan ditindaklanjuti dengan intervensi gizi yang konkret, bukan sekadar dicatat sebagai data administratif.
Kerja sama lintas program dengan petugas gizi Puskesmas dalam pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil KEK perlu terus diperkuat, disertai evaluasi berkala terhadap perubahan status gizi ibu sepanjang kehamilan sebagai indikator keberhasilan intervensi yang diberikan.
5. Kesimpulan
Terdapat hubungan positif yang signifikan antara status gizi ibu hamil berdasarkan LiLA dengan berat bayi lahir. Skrining dan intervensi gizi sejak trimester awal kehamilan perlu diperkuat untuk mencegah berat bayi lahir rendah. Temuan ini juga diharapkan dapat memperkaya bahan ajar praktik klinik kebidanan di lingkungan AKBID WKM maupun institusi pendidikan kebidanan sejenis, sekaligus menjadi rujukan bagi penyusunan kebijakan layanan kesehatan primer yang lebih responsif terhadap kebutuhan ibu dan keluarga. Dengan demikian, kolaborasi berkelanjutan antara institusi pendidikan, fasilitas layanan kesehatan primer, dan pemangku kebijakan setempat menjadi kunci penting dalam menerjemahkan hasil penelitian ini menjadi perbaikan nyata pada kualitas asuhan kebidanan yang diterima masyarakat.
Keterbatasan Penelitian. Penelitian ini hanya mengukur LiLA pada satu titik waktu di trimester I, sehingga tidak dapat menggambarkan perubahan status gizi ibu sepanjang kehamilan yang turut memengaruhi berat bayi lahir. Faktor perancu lain seperti riwayat penyakit penyerta ibu dan jarak kehamilan juga belum dianalisis secara mendalam dalam penelitian ini. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan pengukuran LiLA secara longitudinal pada setiap trimester serta mengontrol variabel perancu secara lebih komprehensif melalui analisis multivariat untuk memperoleh gambaran hubungan yang lebih akurat antara status gizi ibu dan luaran berat bayi lahir.
Daftar Pustaka
- Fitriyani, N. A., Marlina, R. (2024). Hubungan status gizi ibu hamil dengan berat bayi lahir. Jurnal Gizi Kesehatan, 12(1), 40–48.
- Kementerian Kesehatan RI. (2021). Pedoman Penanggulangan Kurang Energi Kronis pada Ibu Hamil. Jakarta: Kemenkes RI.
- WHO. (2022). Low Birth Weight Policy Brief. Geneva: World Health Organization.
- Anggraini, D. (2023). LiLA sebagai indikator status gizi kehamilan. Jurnal Ilmu Kebidanan, 7(1), 33–41.
- Ulfah, M. (2022). Determinan berat bayi lahir rendah di layanan primer. Jurnal Kebidanan Nusantara, 6(2), 55–64.